Elfa Secioria


Profil singkat Elfa Scioria :

Nama lengkap : Elfa Secioria Hisbullah

Tempat / Tanggal lahir : Garut / 20 februari 1959

Pendidikan :
SD, Bandung (1971),
SMPN IX, Bandung (1974),
SMAN III, Bandung (1977),
Akademi Teknologi Nasional, Bandung (Tingkat II, 1980)

Karier :
Ketua Elfa Musc Studio (1981 s/d sekarang),
Direktur Musik Jazz Corner Bandung (1983 s/d sekarang),
Kepala Sekolah Pop Music Mate, Jakarta (1982 s/d sekarang)

Penghargaan :
Pemenang 8 Grand Champion pada festival paduan suara di luar negeri,
Pengaransir terbaik di ASEAN Song Festival di Bangkok (1982),
The Best Arranger dan The Best Song pada ASEAN Song Festival di Bandung (1984),
The Best Performer pada the Golden Kite Festival di Malaysia (1984).

Di awal tahun 2011 Indonesia kembali kehilangan seorang putra terbaiknya, yakni Elfa Secioria. Pria bersahaja ini adalah komposer dan konduktor kebanggan Indonesia yang telah sukses memunculkan bakat-bakat baru di dunia musik Indonesia.

Elfa Secioria Hisbullah dilahirkan di Garut, 52 tahun silam, ia berasal dari keluarga yang gemar akan musik. Sang ayah, Hasbullah Ridwan, adalah seorang polisi militer yang aktif bermain musik. Elfa sejak muda dikenal sebagai pemain musik jazz dan konduktor opera yang bertalenta. Elfa mulai berlatih piano pada usia 5 tahun. 3 tahun berselang, Elfa sudah tergabung dalam sebuah band jazz bernama Trio Jazz Yunior IVADE. Elfa mendalami musik di institut pendidikan musik resmi kota Bandung. Ia mengikuti Piano Privat 1 dan 2 (1970-1974), mempelajari musik Simfoni (1971-1978) dan belajar Aransemen Orkestra (1974-1978).

Elfa mendapatkan bimbingan mengenai teori dan sejarah musik, komposisi, dan karakter instrument dari Kapten Anumerta F.A. Warsono, pimpinan Orkes Simfoni Angkatan Darat Bandung. Pada dasarnya ia memang berbakat di bidang musik. Pada umur 11 tahun ia pernah memukau penonton suatu pentas dengan bermain piano dengan mata tertutup. Pada saat berusia 19 tahun, ia telah melanglang buana mengharumkan nama bangsa bersama kelompok vokal yang sudah memenangi delapan grand champion festival paduan suara di luar negeri.

Beranjak dewasa, sejumlah besar prestasi pun pernah ditorehkan Elfa. Pada tahun 1982 ia menyabet piala sebagai Pengaransir Terbaik pada ASEAN Song Festival di Bangkok,. Di tahun 1984, pada acara yang sama di Manila, ia kembali meraih penghargaan untuk The Best Arranger and the Best Song lewat Lagu yang ia tampilkan berjudul Detik tak Bertepi, yang dinyanyikan oleh Christine Panjaitan. Di festival tersebut makalah yang berjudul Saluang, Pupuit, Talempong, Gandang (Minangkabau) Indonesia yang ia buat juga memperoleh pujian dari para peserta lain.

Pada festival Golden Kite di Malaysia tahun 1984, Elfa kembali menyabet penghargaan sebagai The Best Performer dengan lagu Kugapai Hari Esok yang dinyanyikan oleh Harvey Malaiholo. Selama karirnya, Elfa sudah 14 kali menjadi pengaransir orkes Telerama dan Candra Kirana di TVRI.

Pengalaman berkesan buat Elfa, yakni ketika ia menjadi konduktor pada orkes simfoni Yamaha di Budokan Hall, Tokyo saat berlangsung acara World Popular Song Festival pada tahun 1982. Seusai pentas ia dan grupnya dihujani tepuk tangan yang membahana yang membuatnya ‘merinding’. Pengalaman lain yang juga berkesan adalah sewaktu ia harus menyelesaikan 17 aransemen musik selama tujuh jam di dalam pesawat pada tahun 1983. Semuanya diselesaikannya dengan baik.

Namun pencapaian terbesar Elfa selain hal-hal di atas adalah keberhasilannya mencetak sejumlah musisi ternama di Indonesia, seperti Dewi Gita, Heidi Yunus, dan tentunya Elfa’s Singers. 4 anggota inti Elfa Singers sukses angkat nama dan menjadi selebriti berkat tangan dinginnya.

Pada awal tahun 2011, Elfa meninggal dunia. Ia telah jatuh sakit sejak lama dan menghabiskan waktu di Rumah Sakit beberapa bulan terakhir sebelum kematiannya. Belum ada kepastian mengenai penyakit yang merenggut nyawanya karena Elfa tertutup kepada semua orang mengenai kondisinya. Ia bahkan menolak dijenguk selama berada di Rumah Sakit. Elfa belum sempat menyelesaikan proyek terakhirnya, yakni drama musikal ‘Laskar Pelangi’.

Kematian Elfa menjadi kehilangan besar bagi para musisi Indonesia. Pemakamannya diwarnai isak tangis dan keharuan luar biasa dari sejumlah musisi kawakan tanah air, yang sebagain merupakan mantan anak asuhnya.

Selamat jalan bang Elfa, meski jasadmu kini telah bersemayam, namun musik yang kau wariskan tak akan lekang dimakan jaman. Turut berduka cita!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • %d bloggers like this: